Penulis : Rizal Hamzah mahasiswa fakultas Ushuluddin Adab dan dakwah prodi manajemen dakwah IAIN Pontianak
Berbicara aktivis banyak yang mengakui bahwasanya dirinya adalah aktivis, dikarenakan alasan dirinya aktif di suatu wadah ataupun kampus.
Aktivis ini sering dikatakan oleh kalangan mahasiswa yang mengikuti organisasi baik internal maupun eksternal, dengan aktif di wadah tersebut disetiap kegiatan lalu dijuluki aktivis, padahal itu aktif bukan aktivis.
Bagi saya pribadi aktivis dan aktif itu berbeda. Aktif itu orang yang selalu ada di kegiatan di suatu wadah namun kebanyakan hanya sekedar ada namun tidak mendapatkan hasilnya seperti apa bahkan tidak mau tau bagaimana cara mengelolanya didalam pikirannya yang penting aktif dan hadir.
Sedangkan Aktivis bagi saya pribadi adalah orang yang aktif dan dia berproses ingin mencari tau, baik cara mengelolanya dan juga cara menyelesaikan masalahnya dengan solusi apa yang ditawarkan. Dan juga aktivis itu tidak berlaku hanya satu tahun saja bahkan satu priode saja tapi aktivis itu selesalu dipakai di masa kedepanya, karena secara keilmuan aktivis itu lebih tau dan dia berproses secara baik dan benar.
Banyak orang mengaku bahwasanya dirinya adalah aktivis dan juga orang lain mengakuinya bahwasanya orang tersebut aktivis karena dilihat dari keaktipanya sehingga orang tersebut dijadikan pemimpin atau pengurus disuatu wadah tersebut, namun orang tersebut tidak jauh berbeda dengan pohon pisang yang berbuah hanya satu kali saja, habis itu tidak ada gunanya.
Sama seperti orang-orang yang menjadi pemimpin di suatu wadah ataupun pengurus, setelah jabatanya selesai menghilang entah kemana tidak perduli sama adek-adek nya dibawah, bahkan adek-adek nya pun tidak mencarinya, karena bicara secara keilmuan tidak ada yang mau di konsumsi untuk bawahanya sehingga dirinya hanya berlaku dimasa jabatanya saja.
Sehingga disitulah hanya menjadi aktif itu tidak cukup seharusnya disertai dengan jiwa aktivis tersebut menggeluti segala ilmu atau pun persoalan yang ada pada masanya biar hidupnya tidak berlaku seperti pohon pisang Yang hanya berlaku satu kali saja.
Menjadi jiwa pemimpin itu bukan hanya cuman berbicara tanggung jawab namun berbicara juga dengan kesadaran, apakah dirinya mampu untuk menjadi seorang pemimpin seterusnya buka cuma berbicara di masanya saja, karena jikalau orang berilmu akan dipakai seterusnya buka cuma dimasa jabatanya.
Disinilah kita harus sadar bahwasanya aktif itu harus juga di laksanakan dengan kesadaran, karena banyak orang aktif namun dirinya tidak sadar apakah dirinya pantas disebut sebagai jiwa yang aktivis yang layak untuk menjadi seorang pemimpin.
Karena pemimpin yang sukses itu yang bisa menciptakan hal yang baru dengan membawa perubahan yang lebih baik bukan meniru dari masa sebelumnya, kalau hanya bisa seperti itu untuk apa membuang buang waktu mu jikalau suatu saat tidak berguna, lebih baik tidur saja biar dirinya tidak sama senasip seperti pohon pisang setelah selesai masanya tidak berguna dan menjadi sampah yang menusuk.
Lebih baik dari sekarang kita sadar bagai mana kita tidak senasip dengan pohon pisang, setelah selesai masanya menjadi mantan aktivis yang tidak berguna lalu menjadi sampahnya yang tidak bermanfaat
Hanya inilah didalam benak pikiran saya untuk ektif didalam wadah untuk menjadi seorang yang aktifis kritis dan bermanfaat untuk orang lain kedepanya